Rabu, 23 November 2016

Menghilangkan Kebiasaan Masyarakat Buang Sampah Sembarangan, Bisakah?


Pernahkan Anda terpikir untuk menemukan cara paling efektif membudayakan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya bagi masyarakat umum?
Sudah banyak cara yang dilakukan pemerintah. Mulai dari memasang papan pengumuman “dilarang membuang sampah di sini”, “jagalah kebersihan”, hingga menyiapkan beberapa tempat pembuangan sampah di berbagai pusat keramaian.

Namun, tetap saja  masih sering dijumpai banyak anggota masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Tumpukan botol-botol bekas minuman kemasan serta plastik-plastik bekas kemasan makanan ringan terlihat di mana-mana. Apalagi jika baru terjadi keramaian di suatu lokasi, dapat dipastikan usai acara pemandangan tak sedap akan menyerang pandangan mata.
Ya, membudayakan kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, hingga melestarikan lingkungan sungguh merupakan tantangan tersendiri.
#Baca juga Manfaat Kantong Sampah Untuk Sekolah.

Tugas mulia ini bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah saja, namun juga masyarakat yang berada di dalamnya. Mari kita contoh negara Jepang, dari segelintir masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, lahirlah gerakan chonaikai (3R – Reduce, Reuse, Recycle). Duapuluh tahun kemudian barulah pemerintah Jepang mensahkan Undang-Undang Kemasan Daur Ulang.

Selain melalui gerakan chonaikai , sukses pengelolaan sampah di Jepang juga didukung oleh budaya malu jika ketahuan membuang sampah sembarangan serta edukasi yang masif dan ekspresif yang dilakukan sejak dini. Anak-anak SD di Jepang, sejak kecil sudah dibiasakan untuk memilih dan memilah sampah, serta membuangnya pada tempat sampah yang sesuai. Sehingga kebiasaan membuang sampah ini menjadi habit dan tertanam di alam bawah sadar.
Apakah hanya negara Jepang saja yang sukses mengajak masyarakatnya peduli terhadap masalah sampah? Ternyata tidak! Di negara bagian Texas-Amerika Serikat, awalnya pemerintah harus mengucurkan dana ekstra sebesar 25 juta dollar per tahun dan meningkat 15% setiap tahunnya. Benar-benar sebuah angka yang fantastis untuk sebuah masalah yang sebenarnya dapat diatasi secara mandiri ini.

Apa upaya perintah Texas untuk mengatasinya? Atas saran Dan Syrek, seorang peneliti kebiasaan buruk membuang sampah, dibuatlah kampanye “Don’t Mess with Texas” (Jangan Rusak Texas, Jangan membuat Texas Berantakan). Kampanye ini ditujukan bagi kaum Bubba, yaitu pria macho usia 18-35 tahun pengendara mobil pickup yang mempunyai kebiasaan membuang sampah apapun dari dalam mobilnya ke jalanan. Karena yang menyampaikan kampanye adalah dua atlet rugby idola para Bubba, otomatis pesan tentang pentingnya menjaga kebersihan kota dapat masuk ke hati mereka.
 #Baca juga Cara Mengelola Kantong Plastik Sampah.

“Buanglah mantan pada tempatnya. Buanglah sampah pada temannya. Selamat malam.”, demikian bunyi retweed sang walikota sebuah kota di Jawa Barat. Sosok pemimpin kharismatik yang mempunyai banyak penggemar terutama dari kalangan ibu-ibu dan kaum muda ini, cukup mampu membuat masyarakat kota yang dipimpinnya tersadar untuk bergegas memerangi sampah secara bersama-sama. Apalagi kota tersebut pernah dilanda musibah longsornya Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Leuwi Gajah yang menjadi peringatan akan betapa pentingnya kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.

#Dapatkan info pertanian dan perkebunan terupdate klik DISINI.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana mengajarkan masyarakat tentang cara mengolah sampah rumah tangga dengan bijak?

Pertama, lakukan gerakan 3 R (Reduce-Reuse-Recycle)
Kedua, pisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos melalui teknologi sederhana, sedangkan sampah anorganik dapat dikumpulkan dalam sebuah kantong sampah hitam atau kantong sampah warna. Sesuaikan ukuran kantong sampah dengan barang yang dipilah, sehingga tidak membutuhkan banyak tempat untuk menyimpannya. Jual di bank sampah, atau sedekahkan pada pemulung, jika sudah mencapai jumlah tertentu.
Ketiga, biasakan anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya sejak dini. Kalau tidak menemukan tempat sampah, untuk sementara masukkan sampah ke dalam saku dan buang jika telah berada di rumah.

Jika setiap rumah tangga melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, dijamin tak lama lagi para petugas sampah berbaju oranye akan kehilangan pekerjaannya.
#Info harga terupdate kantong plastik sampah klik DISINI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar